Published On: Sen, Agu 15th, 2016

3 Karya Mengagumkan Asli Indonesia

Betapa bangganya Indonesia memiliki para peneliti dan ilmuwan yang bertalenta dan mampu memberikan terobosan melalui karya yang mendunia.

Sayangnya, tidak semua karya-karya tersebut diekspos ke permukaan yang menjangkau banyak orang. Dengan demikian, mungkin baru sebagian kecil dari kita yang mengetahuinya.

Kali ini Tekno Liputan6.com menghimpun tiga karya mengagumkan asli Indonesia. Ketiganya adalah alat pendeteksi longsor, inkubator grashof, dan oli yang diubah menjadi bahan peledak. Selengkapnya, simak rangkumannya berikut ini.

 

1.  Pendeteksi Longsor Buatan Peneliti Indonesia Ini Mendunia

Tanah longsor memang bencana yang sudah di tentukan oleh Tuhan dan tak bisa dihindari . Meski demikian, tanah longsor bisa diminimalisasi berkat sistem deteksi dini longsor yang diciptakan seorang peneliti Indonesia.

Teuku Faisal Fathani, peneliti sekaligus penemu alat pendeteksi longsor dari Universitas Gadjah Mada, terinspirasi dari alat-alat pendeteksi gempa asal Jepang yang dibawa oleh Japan International Coorporation Agency (JICA) saat menanggulangi bencana longsor di Indonesia pada 1999.

Alat pendeteksi longsor tersebut terdiri dari penakar hujan, ekstensiometer, tiltmeter, dan alat untuk memantau fluktuasi muka air tanah tersebut dibawa ke Kecamatan Kalibawang, Kulon Progo, Yogyakarta untuk memantau pergerakan tanah.

Sayangnya setelah dipasang, ada alat yang mengalami kerusakan dan hanya bisa diperbaiki di negara asalnya. Karena untuk memperbaiki alat itu butuh banyak biaya, pada 2006 Faisal mencoba menciptakan alat pendeteksi tanah longsor yang diberi nama GAMA-EWS.

Sempat mengalami kesulitan dari sisi elektroniknya, Faisal mengajak mahasiswa jurusan Teknik Elektro UGM untuk ikut membantu. Sebagai hasilnya, pada 2007 Faisal dan tim berhasil membuat alat deteksi dini tanah longsor dengan pembacaan pergerakan tanah yang manual.

 

2. Inkubator Grashof, Penyelamat Bayi Prematur Karya Guru Besar UI

Berawal dari sebuah inkubator rusak, seorang peneliti asal Indonesia berhasil mengembangkan inkubator untuk membantu banyak orang. Inkubator sendiri penting untuk menyokong kehidupan bayi yang terlahir prematur.

Beliau adalah Prof. Dr. Ir. Raldi Kartono Koestoer, DEA dari Universitas Indonesia yang telah membuat inkubator berbasis teknologi Grashof. Teknologi Grashof sendiri bukanlah hal baru, tapi Raldi berhasil memanfaatkan teknologi itu untuk keperluan yang lebih luas.

Riset yang dilakukan oleh Guru Besar Fakultas Teknis Universitas Indonesia itu sudah dilakukan sejak 1995. Salah satu inovasi yang dilakukan Raldi pada inkubator Grashot adalah penambahan beberapa lubang pada empat sisi inkubator.

Penambahan lubang dilakukan untuk membuat suhu ruang inkubator selalu stabil pada angka 38 derajat celcius. Selain itu, Raldi juga mendesain inkubator ini agar mudah dibersihkan dan sebagian besar komponen menggunakan produk dalam negeri. Komponen dalam negeri dipilih karena lebih banyak dan mudah didapatkan, termasuk ketika diperlukan adanya penggantian komponen.

Inkubator ini juga mengedepankan faktor keamanan dengan keberadaan termostat di dalam ruangnya. Sementara, daya penghantar berasal dari lampu pijar yang dipasang. Raldi menerapkan sistem konveksi alamiah pada inkubator Grashof ini. dengan demikian, perpindahan panas terjadi berdasarkan aliran udara alami.

Riset awal Raldi mengenai inkubator Grashof ini sendiri menghabiskan waktu sekitar 6 tahun, mulai dari 1995 dan inkubator pertama dihasilkan pada 2001.

 

3. Ubah Oli Bekas Jadi Bahan Peledak

Oli bekas selama ini menjadi barang yang tak berharga dan kerap dibuang. Namun seorang peneliti dari PT Dahana (Persero) Erwin Cipta Mulyana menjadikannya sebagai sesuatu benda yang memiliki nilai tambah.

Erwin “menyulap” oli bekas tersebut menjadi bahan peledak emulsi (bulk emulsion). Kini, bahan peledak emulsi ini dipakai perusahaan pertambangan umum seperti emas dan batu bara.

Ide pemakaian oli bekas sebagai bahan peledak bermula dari melimpahnya oli bekas di area pertambangan. Sebab, di sana banyak alat-alat berat yang beroperasi.

Daripada menimbulkan masalah lingkungan dan pembuangan oli bekas pun perlu izin dengan biaya cukup mahal, limbah ini dimanfaatkan menjadi bahan peledak. Meski menggunakan bahan berbahaya, seluruh proses pembuatan bahan peledak dari oli bekas ini telah mengikuti aturan yang dikeluarkan pemerintah.

“Oli bekas ini harus disaring untuk memenuhi spek ketentuan lingkungan dan SNI yang berlaku di Indonesia,” ujar Erwin seperti dikutip Tekno Liputan6.com dari Kumpulan 20 Karya Unggulan Teknologi Anak Bangsa yang dirilis Kementerian Riset Teknologi Dan Pendidikan Tinggi 2015, Minggu (29/5/2016).

Erwin mengatakan, dibandingkan bahan peledak ANFO (ammonium nitrat fuel oil), peledak emulsi dari oli bekas ini lebih bisa disesuaikan dengan karakterlokasi pertambangan.

“Bahan peledak emulsi juga mampu meningkatkan produktivitas peledakan melalui kinerja yang tinggi, optimal, dan dapat mengurangi biaya akibat adanya secondary blasting,” kata Erwin.

Sungguh karya – karya hebat dan mengagumkan.