Published On: Jum, Nov 18th, 2016

Aneh, Wanita Ini Alergi Pada Apa Saja

664xauto-wanita-ini-alergi-pada-apa-saja-termasuk-suaminya-161117h

Jalaon.com – Bagi beberapa orang pasti ada yang memiliki penyakit alergi, baik terhadap benda-benda,makanan atau hal yang lain. Dilansir dari Dream.co.id  Tapi,berbeda dengan wanita asal Amerika Serikat ini yang sudah satu tahun belakangan, dia berada di dalam kamar karena alergi makanan, bahan kimia,termasuk bau badan suaminya dan bau manusia dan apa saja.

Akhirnya suaminya membuatkan zona aman yang bisa ditempati istrinya Johanna. Ruangan itu ditutup rapat menggunakan plastik hingga cahaya matahari tidak bisa masuk sama sekali.

Johanna ternyata menderita Mast Cell Activation Syndrom (MCAS). Diagnosa itu baru muncul setelah Johanna diperiksa sekitar 30 dokter.

Johanna memiliki kelainan Sel Mast. Sel ini merupakan sel darah putih yang mengeluarkan cairan kimia ke dalam tubuh, yang kemudian mengendalikan sistem kekebalan tubuh.
Tetapi, sel mast Johanna tidak bekerja pada tempatnya. Sel mast itu mengeluarkan zat kimia pada waktu dan tempat yan salah.

Kasus pertama MCAS didiagnosa sembilan tahun lalu, sehingga informasi mengenai sindrom ini sangat sedikit. Meski begitu, diprediksi antara 1-15 persen populasi dunia menderita sindrom ini.
Bagi kebanyakan orang menderita MCAS, bagaimanapun, cukup mudah diobati. Kasus Johanna, di sisi lain, merupakan salah satu yang ekstrim sehingga dia belum bisa diobati.

Untuk mengusir kebosanan, Johanna menghabiskan waktu dengan sejumlah teknologi dan internet. Dia menyibukkan diri dengan chating dan telepon.

Waktu ketika Johanna meninggalkan kamarnya hanya saat dia harus pergi ke dokter. Tetapi, hal itu sangat menyakitkan.

“Sesaat ketika pintu terbuka, saya langsung merasakannya. Tubuh saya terasa diserang sepenuhnya. Ini terasa seperti tubuh saya sedang berperang sendiri,” kata Johanna kepada Fox 9.

Setiap hari, Johanna hanya mengonsumsi beberapa jenis makanan seperti daging kambing,sapi panggang, mentimun dan wortel. Scott menyiapkan makanan itu selama setahun. Meski begitu, keduanya tetap merasa yakin Johanna dapat sembuh.