Begini Hukum Bitcoin Menurut Pandangan Islam

Jalaon.com – Bitcoin adalah sebuah mata uang digital yang tersebar dalam jaringan peer-to-peer yang tersebar di seluruh dunia. Jaringan ini memiliki sebuah buku akuntansi besar bernama Blockchain yang dapat diakses oleh publik, dimana didalamnya tercatat semua transaksi yang pernah dilakukan oleh seluruh pengguna Bitcoin, termasuk saldo yang dimiliki oleh tiap pengguna.

Peer to Peer adalah adalah suatu teknologi sharing resource dan service antara satu komputer dan komputer yang lain

Ada banyak bisnis dan individu yang menggunakan Bitcoin. Termasuk bisnis fisik di dunia nyata seperti restoran, apartemen, firma hukum, dan juga layanan online terkenal seperti Namecheap, WordPress, Reddit, dan Flattr. Meskipun Bitcoin termasuk fenomena baru, namun berkembang sangat pesat. Pada akhir Agustus 2013, nilai total semua bitcoin yang beredar melebihi 1,5 milyar dolar AS, dengan transaksi pertukaran bitcoin senilai jutaan dolar dilakukan setiap harinya.

Dengan memperhatikan jangkauannya, bitcoin telah disepakati para pebisnis di dunia maya sebagai alat tukar. Dengan kata lain, bitcoin telah menjadi mata uang di dunia maya.

Menjadi perdebatan,bitcoin terus dipertanyakan tentang haram dan halalnya. Hasil kajian dari Dr. Erwandi Tarmizi, MA dalam sesi tanya jawab pada Sekolah Muamalah Indonesia Malang Angkatan 2 terkait Hukum Bitcoin yang mengambil kesimpulan bahwa jual beli bitcoin adalah haram.

Berikut adalah beberapa hal yang mendasari kenapa jual beli bitcoin adalah haram:

1.Bitcoin bukan merupakan mata uang yang di akui oleh pemerintah Indonesia.

2. Asal usul yang tidak jelas dari bitcoin yang di perjual belikan atau digunakan sebagai instrumen investasi ini merupakan bentuk Pembodohan Publik.

3. Bitcoin Merupakan bentuk Artificial Value yaitu Nilai buatan yang tidak memiliki value sebenarnya.

4. Bitcoin selain tidak di akui sebagai mata uang oleh negara Indonesia juga tidak diakui di banyak negara lainnya.

5. Jual beli Bitcoin mengandung Gharar yg besar, karena belum jelas spesifikasi dan value-nya, kenaikan nilai yang tinggi hanya dalam waktu singkat. Plus tidak terjadi qabdh (serah terima).

6. Jual beli atau investasi bitcoin mengandung judi karena tujuan orang beli bitcoin mengharapkan kenaikan secara untung untungan.

7. Jika di paksakan bahwa bitcoin itu seperti jual beli mata uang maka mengandung Riba karena jual beli mata uang dengan cara online dan tidak cash merupakan jual beli Riba.

Fatwa ini juga selaras dgn Kebijakan Bank Indonesia yg melarang Bitcoin sebagai alat tukar. “Kita melarang Bitcoin untuk ditransaksikan di PJSP, Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran.” Dan OJK juga melarang jenis investasi ini. “(Investasi bitcoin) belum ada izinnya. Investasi ini kan belum kita atur, karena belum dilakukan secara terbuka,” kata Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Hoesen.

Secara dalil agama melarang karena mengandung riba, gharar (ketidak jelasan), maysir (spekulasi). Secara hukum positif juga melarang.

“Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri, melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena gila. Yang demikian itu karena mereka berkata bahwa jual beli sama dengan riba. Padahal, Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba. Barang siapa mendapat peringatan dari Tuhannya, lalu dia berhenti, maka apa yang telah diperolehnya dahulu menjadi miliknya dan urusannya (terserah) kepada Allah. Barang siapa mengulangi, maka mereka itu penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: Ayat 275)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here