BEI Tunggu Keputusan OJK Mengenai Auto Rejection

Jalaon.com – Walau keputusan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menghapus aturan baru dan kembali pada aturan lama mengenai batas auto rejection untuk perdagangan saham menjadi simetris, memperoleh respon positif dari pelaku pasar. Tetapi aturan itu tidak dapat diterapkan sebab belum mendapatkan restu dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

bei-tunggu-keputusan-ojk-soal-auto-rejection-yuht8kuwvd

Alpino Kianjaya, Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota BEI mengatakan, pihaknya masih menunggu persetujuan OJK dalam menerapkan batasan auto rejection perdagangan saham menjadi simetris.

Menurutnya, kondisi pasar saham dalam negeri relatif sudah stabil menjadi salah satu alasan BEI untuk kembali menerapkan batasan auto rejection dari asimetris ke simetris. Dirinya member penjelasan bahwa auto rejection adalah penolakan secara otomatis sistem perdagangan saham BEI dengan penawaran jual dan atau permintaan beli efek yang bersifat ekuitas karena dilampauinya batasan harga atau jumlah efek yang bersifat ekuitas dan ditetapkan oleh BEI.

Sekarang, BEI menerapkan auto rejection yang masuk dalam sistem perdagangan bursa yaitu rentang harga Rp. 50-Rp. 200 mempunyai auto reject batas atas 35 persen dan batas bawah 10 persen. Lalu, saham dengan rentang harga Rp. 200-Rp. 5.000 mempunyai auto rejection batas atas 25 persen dan batas bawah 10 persen. Dan harga saham di atas Rp. 5.000 mempunyai auto reject batas atas 20 persen dan batas bawah 10 persen saja.

Pada saat keputusan kita keluarkan dari simetris menuju asimetris adalah dalam rangka hal khusus, ketika itu global telah memengaruhi pasar saham Indonesia yang mebuat indeks turun sampai indeks harga saham gabungan (IHSG) hampir menyentuh level 4.000 poin. Disinilah kita menerbitkan auto rejection batas bawah 10 persen, ujar Alpino Kianjaya.

Ia optimistis, dengan adanya program amnesti pajak akan menjaga pasar modal Indonesia. Dalam hal lain, faktor kebijakan yang dikeluarkan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) tentang kenaikan suku bunga acuannya telah tidak berpengaruh yang signifikan. Faktor (The Fed) tak memiliki pengaruh signifikan, investor asing malah melihat Indonesia sebagai tempat untuk investasi, katanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here