Berat Badan Turun, Belum Tentu Bebas Dari Penyakit Gula, Mengapa?

Berat badan berlebih memang rentan akan penyakit. Kandungan gula atau kalori dalam tubuh lah yang ikut berperan terhadap kelebihan berat badan, maka dari itu banyak individu yang mulai berusaha untuk mengurangi berat badan. Karena yang paling ditakutkan oleh orang yang memiliki berat badan berlebih adalah diabetes.

Namun, meskipun seseorang berhasil menurunkan berat badan, bukan berarti dia sudah bebas dari ancaman diabetes. Karena ada juga orang yang berhasil menurunkan berat badan dan memiliki tubuh yang proporsional, namun kandungan gula darahnya cukup tinggi yang menyebabkan dirinya tetap terkena diabetes.

Selain itu, hingga saat ini belum ada satupun cara yang bisa digunakan untuk mengetahui siapa yang bisa diuntungkan dengan program penurunan berat badan dan siapa yang tidak.

Tim peneliti dari Nestle Institute of Health Sciences (NIHS); Maastricht University Medical Centre dan University of Copenhagen menemukan sebuah penanda khusus di dalam darah yang mereka sebut sebagai ‘sidik jari lipid’.

Peneliti telah menemukannya setelah mereka melakukan pengamatan terhadap kadar lipid seperti kolesterol dan TG (trigliserida) dari 383 obes yang mendapatkan pemantauan diet terkontrol, salah satunya yaitu kontrol ketat terhadap pola makan yang rendah kalori selama 8 minggu, dan manage berat badan selama 6 bulan.

Semua partisipan belum di diagnosa terkena diabetes, namun semua partisipan dianggap sebagai orang yang beresiko diabetes tipe 2. Walaupun diperlakukan sama, ditemukan perbedaan respons yang mencolok dari tubuh partisipan.

Pertama, yang diintervensi kemudian mengalami penurunan risiko diabetes, bahkan mampu mempertahankan berat badannya dan mengalami perbaikan kadar glikemik (kemudian disebut sebagai ‘responder’), dan sisanya, partisipan yang mengalami penurunan bobot tetapi kadar glikemiknya tidak berubah dan tetap berisiko terserang diabetes tipe 2 dan komplikasi lainnya (disebut ‘non-responder’).

Ini artinya, perubahan kompisisi lipid yang terjadi selama partisipan melakukan proses diet, dapat digunakan untuk menentukan penderita obesitas yang mana yang akan lebih diuntungkan dan bebas dari penyakit gula dan mana yang tidak diuntungkan.

Yang dapat memicu penyakit diabetes tipe 2 adalah ketika orang memiliki berat badan normal, tetapi masa ototnya kalah dengan kadar lemak di dalam tubuhnya dan itulah yang menyebabkan komposisi dalam tubuhnya tidak proporsional.

Seringkali masyarakat kurang memahami, ketika ada seseorang yang memiliki berat badan yang normal, orang tersebut merasa bahwa kondisi tubuhnya baik – baik saja dan mengira akan bebas dari resiko diabetes. Namun bisa jadi berat badan tersebut karena kadar lemaknya dan bukan dari pertumbuhan masa ototnya.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here