Published On: Kam, Sep 1st, 2016

Bursa Saham Amerika Tertekan Akibat Harga Minyak

Jalaon.com – Akibat saham energi yang melemah karena imbas harga minyak, Bursa saham Amerika, Wall street pun tertekan. Pada trading closing saham Rabu atau Kamis pagi untuk WIB, indeks saham Dow Jones melemah 53,42 poin atau 0,29 persen ke level 18.400,88.

Indeks saham S&P 500 turun drastis hingga 5,2 poin atau 0,24 persen ke level 2.170,92. Indeks saham Nasdaq juga menurun 9,77 poin atau 0,19 persen ke level 5.213,22. Indeks saham S&P 500 dicatatkan sebagai kinerja negatif selama Agustus 2016. Indeks saham S&P 500 turun 0,1 persen untuk pertama kalinya sejak bulan Februari lalu. Sedangkan indeks saham Nasdaq mengalami kenaikan 1 persen pada bulan Agustus.

Akibat terkena imbas harga minyak AS melemah lebih dari tiga persen, Indeks saham S&P 500 menjadi tertekan dan sektor saham energi menurun sebesar 1,4 persen.

Tak hanya harga minyak saja, data pekerja juga termasuk menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi pelaku pasar. Sektor swasta menambahkan 177 ribu pekerja pada bulan Agustus, ini ditunjukkan berdasarkan dari data awal.

Sementara itu pekerja dan pelaku pasar pun akhir pekan ini masih menunggu untuk dibayarkan gajinya. Dan yang menjadi pertimbangan Bank sentral AS untuk menaikkan suku bunga adalah tenaga kerjanya.

“Jika pelaku pasar mendapatkan kembali data yang solid, maka the Fed akan menaikkan suku bunga pada September ini,” tegas Kim Forrset, Analis Senior Fort Pitt Capital Group seperti dilansir dari laman Reuters, Kamis (1/9/2016).

Berdasarkan komentar pejabat the Fed yang akan menaikkan kembali suku bunga sekali lagi sebelum akhir tahun ini. Tentu hal ini akan berdampak terhadap sektor saham, sehingga pelaku pasar akan lebih memilih sektor saham industri atau teknologi dari sektor saham yang lebih safety dan memiliki imbal hasil yang tinggi.

Sementara itu saham-saham yang mengalami kemerosotan yakni saham Palo Alto Network menurun hingga 7,2 persen ke level US$ 133,17, saham H&R Block Inc menurun hingga 10,5 persen.