Harga Rokok Bakal Naik Jadi Rp 50 Ribu! Ini Tanggapan Masyarakat

Kabarnya harga rokok perbungkus akan naik drastis, yang awalnya hanya Rp 15.000 s/d Rp 20.000 per bungkus, kemungkinan akan naik menjadi Rp 50.000 per bungkus. Kementerian Keuangan pun tengah mengkaji kenaikan cukai rokok.

Rencana dari pemerintah tersebut nampaknya menjadi perhatian masyarakat, terutama yang mengkonsumsi rokok setiap hari. Heronius (29) salah satunya. Dia menolak rencana kenaikan cukai rokok tersebut.

Menurut dia, sah – sah saja jika maksud pemerintah menaikkan cukai rokok agar masyarakat meminimalisir konsumsi rokok, namun jika maksud pemerintah menaikkan cukai rokok hanya untuk menaikkan penerimaan pajak‎, Itu tidaklah adil.

“Tapi kalau‎ mau naik ya sekitar Rp 1.000 atau Rp 2.000 saja, tidak langsung dua kali lipat,” tegas nya.

“Kalau rokok memang jadi Rp 50 ribu per bungkus, mungkin saya akan kurangi merokok, mikir dua kali juga. Tapi kalau begitu kasihan petani tembakau juga,” tambahnya.

Selain Heronius, sama halnya dengan Hendra (27). Dia mengaku jika cukai naik dua kali lipat itu benar-benar disetujui, dia lebih memilih untuk berhenti merokok. “Berat juga kalau Rp 50 ribu, mending uang buat beli nasi,” kata Hendra.

Hendra yang bekerja sebagai karyawan swasta, menurutnya harga rokok saat ini sudah cukup tinggi, dan dia mengusulkan jangan ada kenaikan cukai lagi.

Berbeda lagi dengan warga wanita yang bernama Ayu (34), Ia sangat setuju dengan rencana pemerintah untuk menaikkan harga rokok, dengan begitu masyarakat akan berpikir dua kali untuk membeli rokok. Toh rokok juga sudah terbukti membahayakan kesehatan. Sudah banyak yang sakit akibat rokok. Mengapa tidak dilarang saja?” kata dia.

Ketua Pengurus Harian YLKI, Tulus Abadi juga mendesak Kemenkeu segera menaikkan tarif cukai rokok sehingga harga jual rokok di Indonesia setara atau lebih dari negara lain.

Menurutnya, jika pemerintah menaikkan harga cukai hingga harga rokok per bungkus Rp 50.000, maka pemerintah bisa mendapatkan kenaikan pendapatan cukai lebih dari 100 persen.

Dampak positif lainnya menurut Tulus, dengan lonjakan harga rokok, akan menekan komsumsi rokok masyarakat, tentu saja ini akan menguntungkan kesehatan masyarakat dan juga menghemat pengeluaran masyarakat. Karena banyak rakyat kecil yang mengaku bahwa pengeluaran terbesar adalah untuk rokok.

“Kalau harga rokok lebih mahal, orang tidak akan membeli atau mengurangi konsumsi rokok, termasuk remaja dan anak-anak. Tapi menghapus (konsumsi rokok) tidak bisa,” ucapnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here