Published On: Ming, Nov 13th, 2016

Hentikan Pemakaian Styrofoam untuk Makanan!

dgfggh

Jalaon.com – Di zaman yang serba modern ini, memang semakin beragam cara untuk membuat sesuatu menjadi lebih mudah dan simpel. Salah satunya yaitu dalam hal membungkus makanan.

Dewasa ini kian marak makanan yang dikemas atau dibungkus dengan menggunakan kotak Styrofoam. Banyak kita temukan di restoran, warung, ataupun di supermarket makanan yang berkemasan styrofoam.

Mungkin dari anda masih banyak yang belum menyadari bahayanya mengkonsumsi makanan yang dikemas atau dibungkus dengan kotak styrofoam. Kenapa bahaya? karena styrofoam terbuat dari Kopolimer Styrene yang diproses menggunakan Benzana. Benzana sendiri dikenal sebagai zat yang memicu berbagai gangguan kesehatan seperti tyroid, mengganggu sistem syaraf, merusak sumsum tulang belakang, menyebabkan anemia, sistem imun menurun dan mengganggu siklus menstruasi (bagi wanita).

Selain itu, dapat juga menyebabkan kanker payudara dan prostat bahkan dalam kasus yang parah, benzana dapat menyebabkan hilangnya kesadaran diri seseorang dan kematian. Butiran-butiran styrene dapat dengan mudah berpindah pada makanan, efek kimia dari Styrofoam sendiri semakin kuat ketika digunakan sebagai wadah makanan panas, mengandung kadar lemak yang tinggi, asam dan alkohol. Badan Kesehatan Dunia (WHO) bahkan mengkategorikan Styrofoam sebagai salah satu bahan carsinogen (bahan pemicu kanker).

Sementara itu, di Amerika sendiri sejak tahun 1990, semua negara bagian melarang pemakaian kemasan makanan dari foam ini. Berbagai restoran seperti Wendy”s, Burger King dan lain-lain juga mulai berhenti memakai styrofoam ini. Malah Coast Guard, pemakai styrofoam pertama juga mengklaim kalau mereka tidak akan memakai styrofoam buat mengemas makanan di kapal2 mereka.

Selain berdampak pada masalah kesehatan, Styrofoam juga berdampak pada kerusakan lingkungan. Sifat Styrofoam yang tak mudah terurai oleh alam membuatnya terus menumpuk hingga akhirnya mencemari lingkungan. Styrofoam sebenarnya dapat didaur ulang namun proses daur ulangnya tetap saja melepaskan sekitar 57 senyawa-senyawa berbahaya di alam. Styrofoam bahkan dikategorikan sebagai penghasil limbah berbahaya ke-5 terbesar di dunia.