Published On: Kam, Jul 20th, 2017

Kemkominfo : Mayoritas Kasus Bom Teroris Menggunakan Telegram untuk Berkomunikasi

Jalaon.com – Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) telah secara resmi memblokir situs web Telegram di Indonesia beberapa hari yang lalu karena alasan keamanan negara.

Dirjen Aplikasi Informatika Kemkominfo, Semuel A Pangerapan mengatakan bahwa situs tersebut kerap kali digunakan untuk para teroris dan pelaku bom bunuh diri sebagai sarana komunikasi dengan sesama teroris, hal ini diketahui berdasarkan data dari Kemkominfo mulai tahun 2015 hingga 2017.

“Data kasus terorisme yang terjadi sejak 2015-2017, seluruh pelaku menggunakan Telegram untuk berkomunikasi. Hanya dua kasus yang tidak (pakai Telegram),” katanya di kantor Kemkominfo, di Jakarta, Senin (17/7/2017) malam.

Selain itu, Semuel juga menerangkan bahwa dari beberapa kejadian bom yang dilakukan oleh teroris telah terdeteksi mayoritas berkomunikasi melalui sarana telegram, diantaranya yaitu kasus pembahasan aksi rencana bom mobil di tempat ibadah dan pembunuhan Ahok pada 23 Desember 2015, aksi bom dan penyerangan senjata api di jalan M.H Thamrin, Jakarta di 14 Januari 2016, dan aksi bom Kampung Melayu di Jakarta pada 27 Februari 2017.

Semuel dengan persetujuan pemerintah RI telah resmi memutuskan untuk menghapus atau memblokir situs web telegram di tanah air agar bisa menjadi peringatan keras bagi sekelompok yang menyalahgunakannya.

“Pemblokiran ini peringatan keras demi menjaga keamanan dan menegakkan kedaulatan negara,” tegasnya.