Published On: Sab, Feb 4th, 2017

Menteri Pendidikan Menolak Mata Pelajaran Wirausaha Masuk di Sekolah

sdf

Jalaon.comMenteri PendidikanMuhadjir Effendy menolak adanya mata pelajaran “wirausaha” di sekolah. Alasan ia menolak adalah karena wirausaha tidak hanya dapat di pelajari di dalam kelas, namun juga harus diciptakannya lingkungan wirausaha di sekolah.

“Kalau dijadikan mata pelajaran (wirausaha) jadinya wira wiri. Saat jadi rektor (Universitas Muhammadiyah Malang) tolak mata pelajaran wirausaha. Ini tak bisa diajari di kelas,” ujar Muhadjir saat memberi sambutan pada acara kelas inspirasi dengan tema “Mencetak Entrepeneuer Tangguh Bersama Arif P Rachmat”, di SMA Negeri I Yogyakarta, Sabtu (4/2/2017).

Muhadjir menilai bahwa wirausaha hanya akan efektif jika diajarkan langsung di lapangan, bukan di kelas. Karena wirausaha juga tidak sekedar teori, akan tetapi lebih banyak terjun langsung ke lapangan agar pengetahuan, pengalaman dan mental juga terasah.

“Jangan diajar di kelas tapi disuruh ke pasar. Bagaimana mereka berjualan, cara berjualan ini dinilai. Melihat hasilnya bagaimana apakah orangtuanya yang suruh beli. Itu mental (wirausaha) akan kelihatan. Kalau diajarkan di kelas oleh guru yang tak
pernah wirausaha dan dosen yang mengerti ilmu ekonomi tapi tidak pernah jadi wirausaha maka nanti hasilnya wira wiri,” lanjutnya.

Ia memberikan contoh dengan menceritakan pengalamannya sewaktu ia menjadi rektor di UMM, bahwa ia jatuh bangun dalam membangun usaha di bidang Hotel, SPBU dan juga rumah sakit. Ia pernah ditipu dan juga bangkrut, namun dia tetap gigih untuk bangkit kembali.

Menurutnya seorang pengusaha tidak hanya menguasai ilmu, akan tetapi mental juga lebih penting. Karena seorang pengusaha harus dapat bertahan dalam menjalani proses jatuh bangunnya.

“Membereskan UMM jangan dikira hanya berhasil. Orang hanya lihat suksesnya dulu. padahal kita jatuh bangun beberapa kali ditipu dan nombok. Karena saya sebagai rektor punya tanggung jawab pribadi seperti manajer di perusahaan. Pertama harus berani ambil risiko dan bertanggung jawab. Tak cukup jadi pelajaran dari guru yang tidak pernah ambil risiko,” ucap Muhadjir.