Published On: Rab, Sep 28th, 2016

Ngeri, Ini 4 Ajaran Dimas Kanjeng Yang Menyesatkan

Jalaon.com – Penyebaran ajaran Dimas Kanjeng yang dianggap sesat dari panutan agama Islam mengusik warga Probolinggo. Menanggapi keluhan itu Majelis Ulama Indonesia (MUI) langsung gerak cepat mengkaji ajaran sesat pemilik Yayasan Padepokan Taat Pribadi berlokasi di RT 22/RW 08, Dusun Sumber Cengklek, Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.

Sekitar tahun 2012 silam, Padepokan Taat Pribadi menerbitkan sebuah buku ajaran setebal 20 halaman yang ditulis langsung oleh Dimas Kanjeng sebagai bacaan utama para pengikutnya. Buku itu kini sedang dikaji seksama oleh pihak MUI Kabupaten Probolinggo seperti dilansir dari laman Jawa Pos, Rabu (28/09/2016).

Foto Dimas Kanjeng, Penyebar Ajaran Sesat

Foto Dimas Kanjeng, Penyebar Ajaran Sesat

Ajaran Dimas Kanjeng dianggap menyesatkan umat Islam karena dalam bukunya tertulis dogma, aturan, amaliah dan wiritan yang perlu dikaji ulang dari segi agama. Sebagian besar tidak bisa dipertanggungjawabkan. Berikut ini empat dugaan ajaran sesat Dimas Kanjeng yang disampaikan langsung kepada semua pengikut setianya.

1. Dalam buku terbitan tahun 2012 ada bacaan salat tidak sesuai syariat Islam, bahkan sama sekali tidak pernah diajarkan Rasulullah Nabi Muhammad. Paling kontroversial adalah tulisan Salawat Fulus dan bacaan lain setelah takbir yang tidak ada dalam syariat Islam.

2. Dalam buku ada wiritan, namun sebagian besar tulisan bacaan salawat tidak benar yang justru menghasilkan makna berbeda.

3. Dalam bacaan amalan, hanya sekali saja tawasul Al-Fatitah untuk Rasulullah Nabi Muhammad. Sedangkan tawasul Al-Fatihah pada Dimas Kanjeng ada banyak sekali.

4. Buku ajaran Dimas Kanjeng juga memuat sumpah untuk para pengikut atau santri Yayasan Padepokan Taat Pribadi. Isinya, selama lima tahun mereka tidak boleh berjumpa dengan sang guru besar. Jika tak sengaja berjumpa, maka dilarang keras untuk menyapa atau melempar senyuman.

Ajaran Dimas Kanjeng bukan hanya tertulis di buku terbitan tahun 2012 silam. Sang guru besar sekaligus pembina yayasan padepokan juga mengaku punya kekuatan gaib untuk menggandakan uang. Murid santri dan pengikut mempercayainya sejak lama, bahkan mereka datang dari berbagai daerah di Indonesia seperti Jawa Timur, Bali, Jawa Barat, Jakarta hingga Lampung.