Published On: Sel, Jul 18th, 2017

Terkait Redenominasi, Ini Komentar Pengamat Ekonomi

Jalaon.comBank Indonesia dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) telah menggelar diskusi tertutup untuk membahas Rancangan Undang-Undang tentang Redenominasi pengurangan nol dalam mata uang rupiah. Gubernur Bank Indonesia Agus DW Martowardojo mengaku hal tersebut sudah mendapat persetujuan dari DPR RI.

“Dari FGD kemarin, DPR kelihatannya sudah mendukung bahwa ini (redenominasi) adalah prioritas yang dibutuhkan Indonesia,” kata Agus di Menara Bidakara, Selasa (18/7/2017).

Sementara itu, Pengamat Ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Ahmad Heri Firdaus mengatakan bahwa kelebihan dari redenominasi tersebut hanya dapat membuat mata uang rupiah lebih ringkas dengan sedikitnya angka nol.

“Redenominasi hanya masalah administrasi saja, supaya lebih ringkas. Ini harus dilihat dari ekonomi dan substansinya,”katanya di Jakarta, Minggu (16/7/2017).

Ahmad menjelaskan bahwa diberlakukannya redenominasi tersebut justru akan memicu peningkatan inflasi jika melihat kondisi saat ini, selain itu hal ini akan menimbulkan banyaknya pembulatan harga barang kebutuhan sehari – hari dari pedagang yang dijual kepada konsumen untuk memudahkan transaksi.

“Kalau redenominasi diterapkan akan ada semacam moral hazard pada pedagang, akan terjadi pembulatan harga ke atas dan ini berdampak pada inflasi. Jadi faktor psikologis yang harus dikontrol oleh BI dan sosialisasi terhadap masyarakat di seluruh Indonesia,” ungkapnya.

Menurut Ahmad, lebih baik redenominasi atau peringkasan nol pada mata uang rupiah ini diterapkan di Indonesia pada beberapa tahun yang akan datang apabila masalah ini tidak begitu mendesak untuk dilakukan saat ini.

“Kalau ini tidak terlalu urgent bisa ditunda. Karena kan hanya pemotongan nol di belakang. Ini harus dilihat dampak terhadap ekonomi,” jelasnya.